Berita  

Persaingan Pengaruh Turki-Israel di Timur Tengah

Ketegangan Turki dan Israel Semakin Meningkat: Rebutan Pengaruh di Timur Tengah

Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat setelah Israel melakukan serangan udara ke pangkalan udara nonaktif di Suriah utara. Serangan ini diklaim sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan rencana penempatan pasukan Turki di lokasi tersebut. Meskipun pemerintah Turki dan Suriah membantah adanya rencana pengerahan pasukan ke pangkalan tersebut dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Serangan ini turut dikritik oleh Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, sebagai eskalasi yang tidak perlu.

Rivalitas yang Semakin Terbuka dan Tajam

Rivalitas antara Turki dan Israel tidaklah baru, namun belakangan semakin terbuka dan tajam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sering kali melontarkan kritik pedas terhadap Israel, menyebutnya sebagai “negara teror” dan membandingkan PM Benjamin Netanyahu dengan Hitler. Netanyahu pun membalas dengan menyebut Erdogan sebagai diktator antisemit, serta menuduh Turki mendukung terorisme dan bertindak layaknya negara musuh.

Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menerima kehadiran militer Turki yang meluas ke arah selatan dan mengancam keamanan negaranya. Sementara Turki membalas dengan mengumumkan upaya penangkapan Netanyahu lewat Interpol atas tuduhan genosida dan penyiksaan terkait kasus perlakuan terhadap aktivis pro-Palestina yang dicegat di laut.

Akar Ketegangan yang Dalam

Tingginya ketegangan antara kedua negara ini berakar dari sejumlah peristiwa besar yang terjadi. Mulai dari perang Israel di Gaza hingga jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah yang melahirkan pemerintahan baru pimpinan Ahmed al-Sharaa yang disoroti oleh Israel. Suriah kini menjadi titik gesekan paling berbahaya antara Turki dan Israel.

Perbedaan visi fundamental membuat kedua negara terus saling curiga, dan persaingan keduanya pun meluas ke wilayah lain di luar Timur Tengah seperti Tanduk Afrika dan Mediterania Timur. Meskipun demikian, kemungkinan bentrokan militer langsung dianggap kecil, terutama dengan peran Amerika Serikat sebagai mediator.

Source link