Penanaman Pohon Lokal Jadi Strategi Penting Konservasi Paseban Foundation

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Pulau Jawa memasuki babak baru setelah Paseban Foundation berhasil mencatat keberadaan lima spesies primata yang masih bertahan di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor. Penemuan ini didapatkan melalui proses panjang riset, pemantauan lapangan yang intensif, dan dukungan kamera jebak yang dipasang di berbagai titik strategis.

Data hasil riset terbaru tersebut diungkap dalam acara tahunan Paseban Foundation di Jakarta yang sekaligus memperingati Hari Konservasi Alam Nasional, menjadi tanda penting dalam perjalanan yayasan selama dua tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, Wahdi Azmi selaku Direktur Eksekutif menyampaikan bahwa tantangan konservasi di Pulau Jawa sangatlah berat, sebab wilayah ini merupakan pulau terpadat di Indonesia dengan tekanan pembangunan yang amat tinggi. Namun, Megamendung tetap menjadi saksi langka, di mana semua spesies primata asli masih dapat bertahan bersama dalam satu ruang bentang alam.

“Tidak mudah menemukan lanskap sekecil ini di Jawa yang mampu menampung lima spesies primata berbeda secara alami,” ujar Wahdi pada pertengahan Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadikan Megamendung sebagai salah satu tempat berlindung paling penting untuk satwa liar di dataran Jawa.

Selain primata, survei yang dilakukan menunjukkan bahwa kawasan Megamendung juga masih dihuni beragam satwa liar, seperti burung Elang Jawa yang langka, hingga Macan Tutul Jawa yang statusnya semakin terancam di habitat aslinya. Kekayaan flora dan fauna di wilayah pegunungan tropis ini masih terbilang tinggi, membuktikan besarnya nilai ekologis bentang alam Megamendung.

Secara administratif dan geografis, wilayah Megamendung berada sangat dekat dengan metropolitan Jakarta, sehingga berbagai dampak aktivitas manusia seperti pembangunan kawasan perumahan dan wisata sangat terasa di sini. Namun, letak ini sekaligus menjadikan Megamendung titik penyangga vital bagi biosfer Cibodas yang punya peran strategis dalam sistem pemerintahan konservasi regional.

Konsep perlindungan biosfer tidak sekadar melindungi kawasan inti, namun juga menyeimbangkan antara kelangsungan satwa liar, hutan, dan pemanfaatan sumber daya oleh masyarakat sekitar. Model tata ruangnya melibatkan zona konservasi mutlak, area penyangga untuk peralihan, dan kawasan interaksi langsung dengan masyarakat dimana aktivitas ekonomi tetap berjalan demi memastikan kolaborasi jangka panjang.

Keseimbangan ekosistem menuntut keterpaduan antara habitat hewan liar, tutupan vegetasi hutan, pola aliran air, lahan pertanian warga, serta permukiman yang semuanya saling terhubung dan dipengaruhi satu sama lain. Dalam sudut pandang Wiratno selaku Penasihat Yayasan, proses alam tidak dibatasi garis-garis administratif, karena satwa dan dinamika elemen alam seperti air selalu bergerak lintas batas. Kesadaran akan kompleksitas ini menuntut pendekatan multi-pihak serta model tata kelola bersama supaya upaya konservasi berjalan efektif sekaligus adil.

Keterlibatan pemerintah, masyarakat adat, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta aktivis lingkungan telah menjadi pola pengelolaan bersistem yang didorong Paseban Foundation. Salah satu langkah konkret yang sedang berjalan adalah penanaman ribuan bibit pohon endemik lokal. Sejak awal tahun hingga Agustus 2026, lebih dari 21.000 pohon telah ditanam sebagai upaya memulihkan tutupan hutan sesuai ekosistem aslinya.

Di samping konservasi in-situ lewat perlindungan langsung di habitat aslinya, Paseban Foundation kini juga melakukan konservasi ex-situ berupa penangkaran dan pembiakan spesies penting di lingkungan yang terkontrol dan aman dari ancaman. Lisensi untuk program penangkaran non-komersial telah dikantongi yayasan, yang hingga kini telah berhasil menetaskan tiga rusa di unit penangkaran. Program ini juga menyusun agenda reintroduksi rusa ke alam liar dalam upaya panjang memulihkan kelengkapan rantai ekologi kawasan Megamendung.

Pelepasliaran satwa hasil penangkaran ke habitat asli tidak bersifat seketika. Sebaliknya, seluruh tahapan wajib melalui proses penyesuaian, rehabilitasi, pemantauan kesehatan dan adaptasi perilaku alam yang ketat agar transisi tidak menimbulkan tekanan baru baik bagi populasi satwa asli maupun lingkungan sekitar.

Andy Utama, sebagai pendiri Paseban Foundation, menegaskan bahwa kerja pemulihan Megamendung adalah misi jangka panjang, di mana hasilnya tidak akan dicapai satu atau dua generasi saja. Megamendung Century Initiative diusung untuk membangun masa depan ekosistem, mengembalikan fungsi ekologis kawasan agar kembali seperti kondisi alami ratusan tahun lalu, tanpa meninggalkan nilai interaksi sosial-ekonomi masyarakat yang sekarang tinggal dan hidup di sana.

Menurut Andy, rekonstruksi habitat, perbaikan kualitas air, peningkatan kerapatan vegetasi, serta harmonisasi aktivitas manusia dan alam adalah fondasi pelestarian jangka panjang yang tidak boleh berhenti di tengah jalan. Oleh sebab itu, setiap langkah mesti diwariskan dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Andy menutup pernyataannya dengan pesan, “Konservasi itu maraton dan perlu diteruskan, agar alam Megamendung tetap lestari bagi masa depan.”

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor