Berita  

Invasi AS ke Pulau Iran: Apakah Trump akan Berhasil?

Skenario Invasi AS: Mampukah Trump Kuasai Pulau Iran?

Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah pulau strategis Iran memicu spekulasi baru bahwa Washington tidak hanya ingin melumpuhkan kemampuan militer Teheran, tetapi juga berpotensi merebut wilayah Iran. Meski dinilai memiliki kemampuan militer untuk melakukannya, para analis memperingatkan langkah tersebut justru bisa menyeret AS ke perang darat yang jauh lebih besar dan mahal.

AS Dinilai Mampu Rebut Pulau Iran

Andreas Krieg, profesor madya bidang studi keamanan di King’s College London, mengatakan secara taktis AS memang memiliki kemampuan untuk merebut pulau-pulau Iran. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Krieg mengatakan dengan dukungan kekuatan udara, laut, dan pasukan amfibi yang memadai, serta kesiapan menghadapi eskalasi setelahnya, AS dapat menguasai sebuah pulau kecil milik Iran.

AS saat ini diperkirakan memiliki sekitar 50.000 personel militer yang ditempatkan di Timur Tengah, baik di pangkalan permanen maupun pos-pos militer kecil di kawasan. Senada, profesor politik Timur Tengah Universitas Georgetown, Nader Hashemi, mengatakan AS bukan hanya mampu merebut pulau-pulau Iran, tetapi juga secara logistik dapat mendudukinya karena masih menjadi kekuatan militer terbesar di dunia.

Butuh Ribuan Tentara

Krieg memperkirakan operasi terbatas saja membutuhkan sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel militer. “Operasi terbatas kemungkinan membutuhkan kekuatan awal sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel, jika menghitung pasukan tempur, pertahanan udara, insinyur, logistik, tenaga medis, hingga unsur komando,” katanya. Jumlah tersebut bisa meningkat drastis apabila beberapa pulau menjadi target atau apabila tujuan operasi melampaui sekadar merebut wilayah pada tahap awal.

Menurutnya, seluruh pasukan itu akan berada dalam jangkauan tembakan langsung dari daratan utama Iran. “Kapal logistik, kapal pendarat, dan helikopter harus melintasi perairan yang terpapar rudal, drone, ranjau, dan artileri,” ujar Krieg. Ia menambahkan Iran tidak perlu buru-buru merebut kembali pulau yang diduduki AS. “Iran tidak perlu segera merebut kembali pulau-pulau itu. Mereka cukup mengubahnya menjadi posisi Amerika yang mahal dan memalukan secara politik melalui serangan yang terus-menerus,” katanya.

Sulit Hentikan Ancaman Hormuz

Krieg juga menilai merebut pulau-pulau Iran tidak otomatis menghentikan ancaman terhadap Selat Hormuz. Ia menjelaskan Iran tetap dapat meluncurkan rudal maupun drone dari daratan utama sehingga ancaman terhadap pelayaran internasional masih tetap ada. Untuk benar-benar menghilangkan kemampuan Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, AS harus menghancurkan sistem pertahanan Iran di pesisir selatan, bahkan berpotensi menduduki sebagian wilayah pantai negara itu.

Pernyataan Trump memunculkan pertanyaan apakah ancaman tersebut hanya retorika politik atau benar-benar menjadi opsi militer Washington. Profesor politik Timur Tengah Universitas Georgetown, Nader Hashemi, mengatakan AS bukan hanya mampu merebut pulau-pulau Iran, tetapi juga secara logistik dapat mendudukinya karena masih menjadi kekuatan militer terbesar di dunia.

– (luc/luc)

Source link