Berita  

Pontang-panting Pengusaha RI Mencari Pasar Baru di Tengah Efek Perang-Rupiah

Pengusaha RI Berjuang untuk Tetap Relevan di Tengah Gejolak Geopolitik

Jakarta, CNBC Indonesia – Dunia usaha menghadapi gejolak geopolitik dan ketidakpastian global dalam beberapa waktu terakhir. Setelah perang di Timur Tengah, kini faktor internal seperti tekanan kurs dolar hingga lebih dari Rp 18.000 per dolar AS juga makin menekan industri dalam negeri.

Peluang dan Tantangan di Tengah Tebing Penurunan Nilai Tukar Rupiah

Hal ini tidak serta merta membuat pengusaha menyerah. Mereka tengah melakukan berbagai strategi untuk bertahan di situasi saat ini, salah satunya dengan memperluas pasar ke berbagai negara agar tidak hanya tergantung pada pasar yang monoton.

“Diversifikasi pasar atau jangan menumpuk di satu dua negara atau region, tapi agresif cari buyer baru mulai dari Eropa, Asia Timur, Australia, India,” kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur.

Memperkuat Strategi Pemasaran untuk Mengantisipasi Perubahan Pasar Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai US$66,85 miliar, dengan sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar US$54,98 miliar atau 82,25% dari total ekspor nasional. Angka tersebut tumbuh sebesar 3,96% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah tekanan kurs dolar yang terus menguat dan ketidakpastian geopolitik global, strategi pemasaran menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Perusahaan tidak hanya dituntut menjaga efisiensi biaya produksi, tetapi juga harus mampu mengantisipasi potensi gangguan logistik dan perubahan permintaan dari pasar ekspor.

“Strategi pelaku usaha yang praktis dan bisa dieksekusi yakni memperkuat buffer produksi dan buffer waktu, misalnya lead time ditambah serta booking kapal lebih awal kemudian diversifikasi rute dan pelabuhan pilihan sehingga mengurangi risiko satu rute,” tambah Abdul Sobur.

Industri Furnitur dan Kerajinan Indonesia: Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Pengusaha berupaya untuk lebih banyak melakukan ekspor, salah satunya dengan pameran IndoWood Expo 2026 yang mempertemukan pelaku industri dari hulu hingga hilir dengan pembeli domestik dan internasional.

Subur menegaskan, ekspansi industri furnitur dan kerajinan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan kreativitas, tetapi juga oleh kemampuan pelaku industri dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta mengadopsi teknologi manufaktur modern.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang kreatif, serta industri furnitur dan kerajinan yang produknya telah hadir di berbagai negara. Namun, untuk dapat bersaing secara global, kita perlu memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi serta pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi,” pungkas Sobur.

Source link