Berita  

Dolar AS Rp17.000: Pengusaha Dorong Pemanfaatan Bahan Baku Lokal

Tekanan Pelemahan Rupiah, Tantangan Industri Bahan Bangunan

Jakarta, CNBC Indonesia – Industri bahan bangunan kini dihadapkan pada tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level tertinggi. Sejumlah tantangan dari energi hingga ketidakpastian global menjadi perhatian pelaku industri untuk tetap bersaing.

Menurut data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (6/5/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.380 per dolar AS atau mengalami apresiasi 0,17%. Hal ini mengakhiri tren pelemahan lima hari berturut-turut, di mana posisi terlemah terjadi pada hari sebelumnya di level Rp17.445 per dolar AS.

Eksposur Mata Uang Asing Terkendali

Pelemahan rupiah menjadi kekhawatiran bagi pelaku industri karena potensi kenaikan biaya impor yang dapat memengaruhi margin. Namun, perusahaan seperti PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi hal ini.

“Meskipun sebagian komponen masih terkait dengan dolar AS dan yuan, operasional kami lebih banyak menggunakan bahan baku lokal. Hal ini membuat eksposur terhadap nilai tukar mata uang asing relatif terkendali,” ujar Direktur Keuangan BLES, Andrew.

Strategi dan Antisipasi ke Depan

Perusahaan terus melakukan strategi untuk menjaga stabilitas margin dan mengantisipasi tekanan dari faktor eksternal. Langkah efisiensi biaya, diversifikasi sumber energi, dan perkuatan strategi keberlanjutan menjadi fokus perusahaan.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo telah menyampaikan langkah-langkah untuk memperkuat rupiah, termasuk pembatasan pembelian dolar. Upaya ini diharapkan dapat memberikan stabilitas nilai tukar dan mendukung kinerja industri dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang tidak pasti.

Source link