Berita  

Bongkar Titik Lemah Trump: Perspektif Iran

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama tujuh minggu terakhir telah membuka kelemahan utama Presiden AS Donald Trump, yakni tekanan ekonomi dalam negeri. Meskipun AS dan Israel melakukan serangan militer sejak Februari lalu, Iran tetap belum berhasil dijatuhkan. Dampak ekonomi menjadi faktor pembatas terbesar bagi langkah Trump saat ini. Kenaikan harga bensin, inflasi, dan penurunan tingkat persetujuan publik membuat Trump terdesak untuk mencari solusi diplomatis. Meskipun Iran mengalami tekanan militer, mereka berhasil melakukan pukulan ekonomi dengan menutup Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan merugikan konsumen AS. Dana Moneter Internasional bahkan mengingatkan akan risiko resesi global akibat situasi ini. Kondisi politik ini semakin rumit karena pemilu paruh waktu yang akan segera datang di AS. Para analis mencatat bahwa Iran memanfaatkan posisinya untuk mendesak AS kembali ke meja perundingan, sementara rival seperti China dan Rusia memperhatikan reaksi Trump terhadap tekanan ekonomi. Terobosan dalam negosiasi juga memungkinkan terciptanya kesepakatan untuk mengatasi permasalahan pasar energi. Meskipun demikian, dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik ini diperkirakan akan berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, terlepas dari bagaimana konflik berakhir. Konsistensi kebijakan AS dalam konflik ini juga dipertanyakan oleh sekutu di Eropa dan Asia, serta masyarakat internasional pada umumnya. Mimpi Trump terhadap harga energi murah dan inflasi rendah harus disesuaikan dengan realitas geopolitik global yang berkembang.

Source link