Kasus penipuan jual beli ikan ekspor di kawasan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, berujung pada kerugian besar yang mencapai Rp1,07 miliar. Unit Reskrim Polsek Kawasan Sunda Kelapa mengungkap praktik dugaan penipuan dan penggelapan yang menyeret seorang perempuan berinisial KSM, setelah korban berinisial BRN merasa pengiriman barang tak kunjung sebanding dengan uang yang sudah disetor sejak awal transaksi.
Transaksi Berjalan Berbulan-bulan, Barang Tak Sesuai Janji
Kasus ini bermula dari kerja sama pembelian ikan layur siap ekspor yang berlangsung sejak Agustus 2024 hingga April 2025. Dalam periode itu, BRN disebut telah mengirimkan dana lebih dari Rp1 miliar kepada KSM, terutama dalam rentang Januari sampai April 2025. Namun, aliran pembayaran tersebut tidak diikuti pemenuhan barang sesuai kesepakatan. Jumlah ikan yang diterima korban jauh dari nilai uang yang telah ditransfer.
Akibat ketidaksesuaian itu, kerugian BRN membengkak hingga Rp1.073.380.000. Dugaan penyimpangan ini kemudian dilaporkan ke Polsek Kawasan Sunda Kelapa pada 29 Juli 2025 untuk ditindaklanjuti.
Pelaku Ditangkap di Kawasan Sunda Kelapa
Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap KSM di kawasan Sunda Kelapa pada 9 April. Dari tangan pelaku, penyidik mengamankan sejumlah barang bukti yang dinilai berkaitan langsung dengan transaksi, di antaranya rekening koran, invoice, bukti transfer, serta tangkapan layar percakapan WhatsApp yang memperlihatkan proses tawar-menawar dan komunikasi soal pengiriman ikan.
Menurut polisi, modus yang dipakai KSM adalah menawarkan diri sebagai pemasok utama ikan siap ekspor. Skema itu membuat korban percaya dan terus melakukan pembayaran. Namun, kewajiban pengiriman barang tidak dijalankan sebagaimana mestinya setelah dana diterima.
Terancam Empat Tahun Penjara
Atas perbuatannya, KSM dijerat pasal penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana diatur dalam Pasal 486 dan 492 UU Nomor 1 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ancaman hukumannya maksimal empat tahun penjara.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa transaksi bernilai besar di sektor perdagangan hasil laut pun tetap rawan disalahgunakan, terutama ketika kepercayaan dibangun lewat komunikasi personal tanpa kepastian pemenuhan barang yang jelas.
Source link












