Ekonom memperkirakan bahwa adanya potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jika perang di Timur Tengah berlangsung lama dan mempengaruhi tingkat harga minyak mentah global. Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menyatakan bahwa ketahanan fiskal Indonesia dalam menghadapi dampak harga minyak yang tinggi dalam tiga bulan ke depan masih cukup baik. Namun, jika situasinya berlanjut, substansialnya perlu adanya penyesuaian subsidi BBM untuk energi.
Gunarto menyarankan untuk mengalihkan windfall profit dari komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara ke subsidi BBM. Kepala Ekonom David Sumual juga menekankan bahwa dalam kasus harga minyak yang tetap tinggi, rasionalisasi harga BBM diperlukan untuk menjaga ketahanan fiskal. Dia menekankan perlunya penyesuaian APBN dengan harga minyak mentah yang tinggi.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, berpendapat bahwa pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional tanpa harus menaikkan harga BBM dengan menggabungkan penghematan yang cermat dengan penambahan penerimaan dan perlindungan daya beli. Dia menyoroti pentingnya memperkuat bantuan pangan, diskon transportasi, serta belanja langsung kepada rumah tangga.
Dalam kondisi seperti saat ini, menaikkan harga BBM berisiko menambah tekanan pada harga dan mengurangi konsumsi. Oleh karena itu, pemerintah bisa melakukan percepatan perubahan ke sumber energi terbarukan, penghematan energi, serta berbagai langkah lainnya daripada memindahkan beban langsung kepada masyarakat dengan menaikkan harga BBM.




