Berita  

Netanyahu Bentuk Aliansi Heksagon Melawan Poros Sunni-Syiah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengusulkan pembentukan aliansi regional baru yang disebut sebagai “aliansi heksagon” yang melibatkan negara-negara seperti India, Yunani, dan Siprus. Netanyahu mengungkapkan bahwa aliansi ini akan mengumpulkan negara-negara dengan kepentingan keamanan yang sama untuk menantang apa yang disebutnya “poros radikal” di Timur Tengah, termasuk poros Syiah radikal dan poros Sunni radikal.

Meskipun gagasan ini telah diutarakan oleh Netanyahu, belum ada negara yang secara terbuka mendukung rencana tersebut. Beberapa analis bahkan mempertanyakan kelayakan pembentukan aliansi formal tersebut, menganggapnya lebih sebagai narasi politik daripada inisiatif praktis.

Pernyataan Netanyahu ini muncul menjelang kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Israel, di mana Modi telah menekankan pentingnya hubungan persahabatan antara India dan Israel berdasarkan kepercayaan, inovasi, dan kerja sama teknologi. Namun, India dikenal sebagai negara yang pragmatis dalam kebijakan luar negerinya, sehingga keanggotaannya dalam aliansi ideologis seperti yang diusulkan oleh Netanyahu menjadi ragu.

Selain itu, kerja sama antara Israel, Yunani, dan Siprus juga telah terjalin, terutama dalam sektor energi dan pertahanan. Namun, kendala politik dan hukum muncul karena Yunani dan Siprus adalah anggota International Criminal Court yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu terkait dugaan kejahatan perang.

Menurut professor studi keamanan di King’s College London, Andreas Krieg, konsep “heksagon” lebih merupakan upaya pencitraan ketimbang sebagai aliansi yang nyata. Dan beberapa pengamat menyatakan bahwa rencana ini sebagian diinitasi oleh tekanan politik domesik yang dihadapi Netanyahu, yang mencoba menghadirkan citra Israel sebagai negara yang tidak terisolasi secara diplomatik.

Namun, ada keraguan atas kelayakan rencana aliansi “heksagon” mengingat kondisi politik dan hubungan luar negeri yang kompleks sekarang ini. Mungkin lebih tepat dipertimbangkan apakah aliansi ini akan mampu bertahan dalam realitas politik yang kompleks di Timur Tengah saat ini.

Source link