Berita  

RI: Pemain Utama Rantai Pasok Emas

CNBC Indonesia mengadakan acara Gold Outlook 2026 dengan fokus pada “Membangun Ekosistem Emas Nasional untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi 8%” pada Jumat, 30 Januari 2026. Acara ini bertujuan untuk membahas masa depan emas dan ekosistemnya di Indonesia serta dampaknya terhadap perekonomian. Menyoroti lonjakan harga emas yang telah mencapai level USD 5.000 per Troy ons di awal tahun 2026, Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Rizwan Aryadi Ramdhan, menyatakan bahwa hal ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem emas RI. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan hilirisasi komoditas emas dan perak dari hulu ke hilir sehingga Indonesia dapat berperan aktif sebagai pemain utama dalam rantai pasok sektor emas.

Chairman Indonesia Mining Institute, Irwandy Arif, menyampaikan potensi sektor emas RI yang memiliki cadangan terbesar keempat di dunia dan dikelola sebanyak 112 IUP. Namun, tantangan yang dihadapi adalah pertambangan ilegal yang masih cukup besar dengan 1.221 lokasi di seluruh Indonesia dan produksi sebesar 120 ton tanpa membayar pajak. Hal ini harus segera diatasi dengan mendorong investasi di sektor hilir.

Dari segi keuangan, Direktur Strategi Perpajakan Kementerian Keuangan RI, Pande Putu Oka Kusumawardani, menjelaskan kebijakan bea keluar ekspor emas yang dikenakan tarif progresif antara 7,5% hingga 15%. Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung penguatan ekosistem emas, termasuk bullion bank, agar dapat mendorong akses keuangan dan mendukung sumber pendanaan ekonomi RI.

Lonjakan harga komoditas emas juga dianggap sebagai peluang bagi sektor pertambangan untuk meningkatkan produksi emas nasional. Perusahaan tambang BUMN, ANTAM, memastikan bahwa pengelolaan emas dilakukan di Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Permintaan emas yang meningkat juga terjadi, di mana Direktur Komersial PT Aneka Tambang Tbk, Handi Sutanto, melaporkan bahwa antrean emas naik hingga 100 kali lipat.

PT Freeport Indonesia juga berupaya mendorong produksi emas di tengah lonjakan permintaan dan harga komoditas. Meskipun sedang memulihkan produksi Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang mengalami longsor, PTFI menargetkan produksi emas sebesar 26 ton pada tahun 2026 untuk pasar domestik, dengan harapan dapat mencapai 40 ton pada tahun 2028-2029.

Para pembicara seperti Shafinaz Nachiar, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, serta para direktur dan chairman perusahaan terkait lainnya berbagi pandangan dan pemikiran dalam acara Gold Outlook 2026 yang diadakan oleh CNBC Indonesia pada Jumat, 30 Januari 2026.

Source link