Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2025. Salah satunya adalah almarhum Sultan Zainal Abidin Syah, yang dikenal atas perjuangannya dalam bidang politik dan diplomasi untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia Timur, terutama Papua Barat. Zainal Abidin Syah, lahir di Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara pada tahun 1912, juga dikenal sebagai Sultan Zainal Abidin Alting Syah. Ia mengenyam pendidikan di sekolah Belanda sebelum berkontribusi sebagai Bestuur dan Hulp-Bestuur di beberapa daerah di Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang, ia diasingkan ke Jailolo, Halmahera Barat, sebelum dilantik sebagai Sultan Tidore pada tahun 1947.
Peran Zainal Abidin dalam memperjuangkan Irian Barat memuncak saat Konferensi Meja Bundar tahun 1949, ketika ia menolak menyerahkan wilayah tersebut kepada Belanda dengan alasan sejarah keterkaitannya dengan Kesultanan Tidore. Presiden Soekarno kemudian membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan Ibukota sementara di Soa-Sio Tidore. Zainal Abidin juga ditetapkan sebagai Gubernur Provinsi Irian Barat dengan SK Presiden pada tahun 1956. Perjuangannya diakui dengan penobatan sebagai Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat, sebelum akhirnya wafat pada tahun 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon.
Kisah perjuangan Zainal Abidin Syah tidak terlupakan, namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan utama di Soa-Sio, yaitu Jalan Sultan Zainal Abidin Syah di Kecamatan Tidore Selatan. Tindakan heroiknya untuk mempertahankan wilayah Indonesia Timur, terutama Papua Barat, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kesetiaan dan dedikasinya untuk negara membuatnya berhak mendapat gelar Pahlawan Nasional, dan namanya akan terus dikenang oleh generasi selanjutnya.












