Imaji musik tak sadar, yang dikenal sebagai earworm, seringkali muncul secara tiba-tiba dan dapat membuat sebuah lagu terus berputar di kepala tanpa disadari. David Silbersweig, seorang profesor psikiatri dari Brigham and Women’s Hospital, menjelaskan bahwa istilah earworm berasal dari bahasa Jerman “ohrwurm” yang berarti “gatal musikal”. Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Cornelius Eckert pada 1979 untuk menggambarkan potongan musik yang terus berulang di kepala selama sekitar 20 detik.
Beberapa karakteristik musikal tertentu membuat sebuah lagu lebih mungkin menjadi earworm, seperti repetitif, nada panjang, atau interval nada yang sempit. Lagu yang menimbulkan muatan emosional, terkait dengan kenangan pribadi, atau mudah diingat juga cenderung melekat di kepala. Lagu-lagu yang sederhana, penuh pengulangan, dan memiliki nada yang unik seringkali membuat efek earworm terjadi.
Meskipun pengalaman earworm sering dialami oleh lebih dari 90% orang setidaknya sekali dalam seminggu, ada beberapa cara untuk menghilangkannya. Aktivitas yang melibatkan berbagai area otak seperti bekerja, membaca, atau berolahraga dapat membantu mengalihkan perhatian dari earworm. Mengunyah permen karet juga dapat menjadi trik unik untuk meredam earworm, karena mampu mengaktifkan otot vokal dan pusat perencanaan gerakan yang sama di otak.
Penelitian juga menunjukkan bahwa mendengarkan atau memikirkan lagu lain seringkali efektif dalam menghilangkan earworm. Hal ini karena sulit untuk memikirkan dua lagu sekaligus, sehingga memilih lagu yang tidak terlalu melekat di telinga bisa membantu mengalihkan earworm. Dengan pemahaman lebih dalam tentang fenomena earworm, diharapkan dapat membantu individu untuk mengatasi dan menghilangkan pengulangan lagu yang tidak diinginkan di kepala mereka.
