Dromomania: Hasrat Berkelana yang Membahagiakan

Bethany Yeiser, penulis buku “Mind Estranged: My Journey from Schizophrenia and Homelessness to Recovery” membagikan pengalaman hidupnya sebelum divonis skizofrenia pada usia 25 tahun. Yeiser mengungkapkan bahwa keinginannya untuk terus bepergian adalah tanda pertama dari munculnya skizofrenia. Sejak melakukan perjalanan ke China pada tahun 2001-2002, Yeiser terus merasakan dorongan untuk menjelajahi dunia. Kemudian, dia pergi sendirian ke Nairobi, Kenya, dan tinggal di komunitas terpencil.

Setelah kembali dari Afrika, Yeiser merasa sulit beradaptasi dengan kehidupan normal. Dia merasa tidak pantas memiliki fasilitas seperti kulkas dan lemari pakaian, sehingga langsung merencanakan perjalanan selanjutnya. Obsesinya untuk terus berjalan juga menghancurkan studinya di universitas, membuatnya gagal lulus kuliah. Perilaku Yeiser kemudian teridentifikasi sebagai dromomania, keinginan tak terkendali untuk terus bepergian.

Dromomania dicatat dalam Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dan dijelaskan sebagai dorongan abnormal untuk berkelana yang melebihi kemampuan seseorang, bahkan mengorbankan pekerjaan, hubungan, atau keamanan. Fenomena ini pertama kali diamati pada abad ke-19 dari pengalaman Jean-Albert Dadas di Prancis. Dadas sering menghilang tanpa sadar, bekerja untuk bertahan hidup di kota-kota yang berbeda.

Di zaman sekarang, kemajuan teknologi membuat hasrat untuk berkeliling dunia semakin berlimpah. Kecanduan perjalanan bukan lagi hanya karena gangguan klinis, melainkan juga karena pengaruh sosial dan digital yang kuat. Namun, psikolog sosial Michael Brein membedakan antara dromomania dan perjalanan yang biasa. Dalam hal ini, keinginan untuk bepergian haruslah membawa makna positif dan pertumbuhan, bukan sekadar pelarian dari masalah. Perjalanan seharusnya membuka peluang baru dan membangun kepercayaan diri, bukan malah mengacaukan hidup seseorang.

Menelusuri akar dari keinginan untuk terus berkelana membawa kita pada inti dari makna hidup dan identitas diri. Sementara ada peneliti yang percaya bahwa ada “gen wanderlust” yang membuat seseorang terus merindukan petualangan jauh, namun keinginan ini melibatkan banyak aspek yang rumit. Emosi, identitas, dan pencarian makna hidup juga turut berperan dalam dorongan untuk berkeliling dunia.

Source link