Penyebab Gangguan Mental: Bicara Berlebihan

Pernahkah Anda atau orang di sekitar Anda dicap sebagai cerewet karena terlalu banyak bicara? Kebiasaan itu memang cenderung mengganggu bagi sebagian orang dalam suatu percakapan. Namun, sebenarnya, kemampuan tersebut bisa dianggap sebagai kelebihan dalam banyak profesi.
Penilaian terhadap apa yang disebut sebagai berbicara berlebihan sebenarnya sangat subjektif. Apa yang dianggap terlalu banyak oleh seseorang, mungkin dianggap sebatas ramah oleh orang lain. Menurut Verywell Health, tanda-tanda berbicara berlebihan atau kompulsif antara lain adalah melanggar pembicaraan orang lain, mendominasi percakapan, berbicara di waktu atau tempat yang tidak tepat, berbagi terlalu banyak informasi pribadi, berbicara secara impulsif, takut akan jeda dalam percakapan, lebih banyak bicara daripada mendengarkan, serta mengalihkan percakapan ke topik yang hanya menarik bagi diri sendiri.
Seorang psikolog dari Florida, Amerika Serikat, Carolyn Rubenstein, menjelaskan bahwa berbicara berlebihan cenderung menjadi monolog dan kurang memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk berkontribusi. Banyak orang bahkan tidak menyadari jika mereka terlalu banyak berbicara.
Ada perbedaan antara berbicara berlebihan yang dianggap sebagai ciri kepribadian yang normal dan yang menunjukkan adanya gangguan mental atau neurodevelopmental. Pada ciri kepribadian, hal tersebut bisa mencerminkan pola pikiran dan perilaku yang khas seseorang.
Seseorang yang ekstrover dan banyak bicara tidak selalu berarti berbicara berlebihan. Ekstrover dengan tingkat neurotisme tinggi mungkin lebih banyak bicara karena cemas atau tidak aman. Sementara ekstrover dengan tingkat keramahan rendah akan berbicara berlebihan karena kebutuhan untuk mengekspresikan diri lebih dominan daripada mempertimbangkan perasaan orang lain.
Gangguan mental yang terkait dengan berbicara berlebihan antara lain autisme, gangguan bipolar, gangguan kecemasan sosial, OCD, skizofrenia, NPD, dan ADHD. Menurut Daily Mail, kelebihan berbicara bukan jaminan seseorang mengidap autis, namun perilaku tersebut bisa muncul pada individu dengan autisme sebagai ciri umum.
Selain itu, gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem. Pada episode depresi, individu bipolar bisa merasa kesal, mudah menangis, gelisah, lelah, dan tidak bergairah pada aktivitas yang biasanya mereka sukai. Di sisi lain, pada episode manik, mereka bisa merasa sangat ceria, percaya diri berlebihan, mudah terganggu, dan tidur sedikit.
Jika berbicara berlebihan disertai dengan gangguan kecemasan sosial, orang tersebut mungkin merasa sulit untuk berhenti berbicara. Ceceran kata-kata yang berlebihan bisa menjadi ciri khas dari kondisi tersebut.
Menurut Robert N. Kraft, seorang profesor psikologi kognitif, kebiasaan berbicara berlebihan sering dipicu oleh kecemasan sosial dan bisa menciptakan lingkaran sulit untuk dipecahkan. Semakin banyak seseorang bicara, semakin besar kecemasannya tentang bagaimana penampilannya di mata orang lain.
Ada beberapa klasifikasi berbicara berlebihan yang dapat digolongkan sebagai gangguan mental. Misalnya pressured speech, yang ditandai dengan bicara cepat, mendesak, dan sulit dihentikan. Ada juga compulsive speech di mana seseorang merasa sulit untuk berhenti berbicara. Sementara circumstantial speech, hyperverbial speech, dan disorganized speech juga termasuk dalam kategori-kategori tersebut.
Kraft menekankan pentingnya menemukan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan bagi mereka yang cenderung berbicara terlalu banyak. Menutup diri bukanlah solusi, karena hal itu justru bisa membatasi kemampuan komunikasi dan berpotensi memunculkan luapan kata-kata yang tidak terkendali di masa depan. Menciptakan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan merupakan kunci utama dalam menjaga komunikasi yang sehat.

Source link