Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengubah gaya hidup dengan berolahraga, menerapkan pola makan sehat, dan berinteraksi secara sosial dapat membantu dalam melambatkan atau mencegah terjadinya penurunan fungsi otak yang biasa terjadi pada demensia. Demensia menjadi penyebab kematian tertinggi ketujuh di dunia, serta salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan pada lansia. Di Indonesia sendiri, jumlah orang dengan demensia diperkirakan mencapai 1,2 juta pada tahun 2016 dan diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 4 juta pada tahun 2050.
Faktor risiko gaya hidup seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang buruk, obesitas, konsumsi alkohol, hipertensi, diabetes, depresi, dan isolasi sosial diyakini dapat berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup terapeutik, seperti meningkatkan aktivitas fisik, dapat mengurangi penurunan kognitif pada lansia. Aktivitas fisik dapat meningkatkan faktor neurotropik yang mendukung pertumbuhan dan pemetaan ulang neuron di otak, terutama di bagian hipokampus yang rentan terkena demensia.
Selain aktivitas fisik, pola makan sehat seperti diet Mediterania atau DASH Diet dapat membantu melindungi otak dari kerusakan akibat stres oksidatif dan menurunkan risiko gangguan pada pembuluh darah. Berhenti merokok juga penting untuk menjaga kesehatan jaringan otak dan menurunkan risiko gangguan fungsi pikir. Interaksi sosial dan latihan otak melalui berbagai aktivitas juga dapat membantu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan daya tahan mental.
Para ahli menyatakan bahwa pendekatan efektif dan terjangkau seperti ini dapat mengubah cara perawatan demensia, serta membantu meringankan beban keluarga dan sistem kesehatan. Ini merupakan langkah penting dalam upaya mencegah dan mengatasi penurunan fungsi otak akibat demensia pada individu di masa depan.
