Polisi tangkap 6 remaja ledakkan petasan di JIExpo

Polisi Tangkap 6 Remaja yang Ledakkan Petasan di JIExpo Kemayoran

Keramaian di kawasan Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, mendadak berubah tegang setelah enam remaja kedapatan membawa sekaligus meledakkan petasan pada Sabtu malam. Aksi itu langsung memicu respons cepat dari Polres Metro Jakarta Pusat yang menilai perbuatan tersebut bukan sekadar mengganggu ketertiban, tetapi juga berisiko membahayakan orang-orang di sekitar lokasi.

Patroli Bergerak Usai Laporan Warga

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, mengatakan tim patroli segera turun tangan setelah menerima laporan adanya sekelompok remaja yang beriringan sambil membawa bendera dan menyalakan petasan. Situasi itu dinilai tidak pantas dilakukan di area publik yang sedang ramai pengunjung. Petugas kemudian mengamankan para remaja tersebut di lokasi.

Keenam remaja yang diamankan diketahui berasal dari wilayah Jakarta Utara. Sebagian di antaranya masih berstatus pelajar. Polisi menilai tindakan mereka perlu segera dihentikan sebelum memicu gangguan yang lebih besar di sekitar kawasan JIExpo.

Petasan Sempat Meledak di Lokasi

Kasat Samapta Polres Metro Jakarta Pusat menyebut petugas menemukan satu petasan yang sudah meledak di area kejadian. Dari hasil penanganan awal, para remaja itu lalu dibawa ke Polsek Kemayoran untuk pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.

Selain langkah penindakan, kepolisian juga memilih pendekatan pembinaan. Menurut Susatyo, remaja tidak cukup hanya diberi sanksi, tetapi juga perlu diarahkan agar tidak mengulangi perilaku yang berbahaya. Ia menegaskan bahwa keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam mengawasi pergaulan anak-anak, terutama saat berada di luar rumah.

Polisi Ingatkan Peran Orang Tua

Polisi berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi orang tua agar lebih peka terhadap aktivitas anak-anak mereka. Aksi yang terlihat sepele, seperti menyalakan petasan di tempat umum, bisa berujung pada gangguan keamanan dan membahayakan banyak orang. Kepolisian menegaskan kehadiran mereka bukan hanya untuk menindak, tetapi juga menjaga agar ruang publik tetap aman dan tertib.

Dalam kasus ini, enam remaja tersebut kini harus berhadapan dengan proses pembinaan dan pemeriksaan lanjutan, sementara polisi menyoroti satu hal yang sama: pengawasan keluarga tetap menjadi benteng pertama sebelum perilaku berisiko berubah menjadi masalah yang lebih serius.

Source link