Ngabuburit dengan Pacar: Hukum dalam Islam

Menjelang azan Magrib, tradisi ngabuburit kerap jadi momen yang paling ditunggu selama Ramadan. Banyak orang memanfaatkannya untuk berjalan santai, berburu takjil, atau sekadar menunggu waktu berbuka bersama orang terdekat. Namun, ketika kegiatan itu dilakukan bersama pacar, pertanyaan soal hukumnya dalam Islam kembali mengemuka. Apakah sekadar menunggu buka puasa bersama pasangan sudah termasuk hal yang dilarang?

Ngabuburit pada dasarnya tidak dilarang

Dalam Islam, ngabuburit bukanlah aktivitas yang otomatis bermasalah. Selama isi kegiatannya tidak bertentangan dengan syariat, tradisi ini tetap diperbolehkan. Justru, waktu menjelang berbuka bisa menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti kajian agama. Dengan cara itu, ngabuburit tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga menambah nilai ibadah di bulan Ramadan.

Masalahnya ada pada pacaran

Yang menjadi persoalan bukanlah ngabuburitnya, melainkan hubungan pacaran yang menyertainya. Dalam Islam, pacaran memang tidak diajarkan karena dikhawatirkan membuka jalan menuju perbuatan yang lebih jauh, termasuk maksiat dan zina. Zina sendiri merupakan dosa besar yang jelas diharamkan. Karena itu, ngabuburit bersama pacar yang belum halal dinilai tidak dianjurkan, sebab berpotensi menyeret pada hal-hal yang dilarang agama.

Pahala puasa bisa terpengaruh

Meski kegiatan tersebut tidak membatalkan puasa secara langsung, kualitas ibadah tetap bisa terdampak. Abu al-Hasan Taqiyyuddin as-Subki menjelaskan bahwa pahala puasa dapat berkurang jika seseorang menjalankannya sambil melakukan kemaksiatan. Artinya, puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga perilaku, pandangan, dan pergaulan agar tetap sesuai dengan tuntunan Islam.

Karena itu, umat Muslim dianjurkan lebih berhati-hati dalam memilih aktivitas selama Ramadan. Ngabuburit akan lebih bermakna jika diisi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan justru membuka pintu pada perbuatan yang merugikan ibadah. Dengan menjaga diri dari dosa, puasa tidak hanya sah, tetapi juga lebih layak berharap pada ridha-Nya.

Source link