Berita  

Investasi & Industrialisasi: Kunci Ekonomi 8%

Target pertumbuhan ekonomi 8% bukan sekadar angka yang dikejar lewat pidato politik. Di tengah tekanan global dan kebutuhan memperkuat mesin ekonomi domestik, CNBC Indonesia melalui acara Economic Outlook 2025 mengulas ulang pertanyaan penting: sektor apa yang benar-benar bisa mendorong lompatan ekonomi Indonesia?

Hilirisasi Dinilai Belum Cukup Tanpa Industrialisasi

Dengan tema “Riding the Wave of 8% Economic Expansion”, forum ini membahas prospek, tantangan, dan strategi kebijakan makro untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% yang ditetapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa hilirisasi memang penting, tetapi nilai tambah dari industrialisasi jauh lebih menentukan jika Indonesia ingin tumbuh lebih cepat dan lebih berkualitas.

Menurut Eddy, konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama ekonomi masih belum berada pada level yang cukup kuat. Karena itu, ia menilai dorongan terhadap investasi dan ekspor menjadi syarat yang tak bisa ditunda jika Indonesia ingin mendekati target tersebut.

Investasi Masih Menjadi Pintu Utama

Dari sisi pelaku usaha, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Mind ID, Dilo Seno Widagdo, melihat Indonesia tetap memiliki daya tarik besar bagi investor, terutama di sektor pertambangan, pengolahan, dan logam. Namun, ia mengingatkan bahwa minat investasi tidak cukup hanya bermodal potensi sumber daya alam.

Dilo menekankan perlunya kemudahan berusaha, kepastian pasokan energi, serta infrastruktur yang memadai agar arus investasi bisa tumbuh lebih stabil. Tanpa itu, daya tarik Indonesia berisiko tidak terkonversi menjadi realisasi investasi yang kuat di lapangan.

Forum Ekonomi di Tengah Tantangan Target 8%

Diskusi yang berlangsung di Hotel Westin, Jakarta, pada Rabu, 26 Februari 2025 itu mempertemukan pandangan dari pemerintah dan pelaku industri dalam satu panggung. Kehadiran Eddy Soeparno dan Dilo Seno Widagdo memperlihatkan bahwa target 8% tidak bisa ditopang satu sektor saja, melainkan membutuhkan kombinasi kebijakan yang mendorong produktivitas, investasi, ekspor, dan industrialisasi secara serentak.

Sumber: CNBC Indonesia

Source link