Berita  

Stok Motor Listrik Terlalu Banyak di RI, Apa Penyebabnya?

Stok motor listrik di Indonesia sedang menumpuk di level produsen. Ribuan unit belum terserap pasar, bukan semata karena minat hilang, melainkan karena banyak calon pembeli memilih menunggu kepastian dari pemerintah. Di tengah daya beli yang belum pulih, keputusan soal subsidi menjadi penentu utama apakah pasar kembali bergerak atau tetap tertahan.

Pasar Menunggu Kepastian Subsidi

Ketua Asosiasi Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setyadi, mengatakan masyarakat saat ini cenderung menahan diri untuk membeli motor listrik sambil menanti kejelasan kelanjutan subsidi kendaraan tersebut. Kuota subsidi yang sudah habis sejak tahun lalu masih memberi dampak besar terhadap penjualan, membuat produsen harus menanggung stok yang belum terjual.

Menurut Budi, kondisi ini juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang belum membaik. Karena itu, pembelian motor listrik masih sangat bergantung pada insentif pemerintah. Tanpa kepastian soal subsidi, pasar bergerak lambat dan produsen ikut terdampak.

Revisi Aturan Jadi Penghambat

Sebelumnya, AISMOLI bersama pemerintah sudah membahas kelanjutan insentif motor listrik dalam pertemuan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan final. Salah satu penyebabnya adalah proses revisi Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Rudy Salahuddin, menyebut subsidi Rp 7 juta masih akan diteruskan. Hanya saja, pelaksanaannya masih menunggu aturan dari Menteri Keuangan, terutama soal kuota penerima dan mekanisme penyalurannya.

Produsen Menunggu Langkah Pemerintah

Rudy menegaskan perlunya tetap mengacu pada Perpres yang berlaku agar tidak muncul kebingungan dalam penyaluran insentif motor listrik. Bagi industri, kejelasan aturan menjadi kunci untuk mengurai penumpukan stok di pabrik sekaligus mengembalikan kepercayaan pasar.

Selama keputusan belum keluar, produsen harus menghadapi situasi yang serba menggantung: unit terus tersedia, tetapi pembeli memilih menunggu. Di titik inilah kepastian kebijakan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar janji kelanjutan program.