Modus penipuan daring lewat aplikasi kencan di Jakarta ternyata tidak menyasar korban secara acak. Dari temuan kepolisian, jaringan ini justru lebih banyak membidik warga negara asing (WNA), dengan pola penawaran investasi palsu yang dikemas lewat percakapan di aplikasi. Kapolsek Gambir, Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Rezeki R Respati, mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers usai pengungkapan kasus tersebut.
Mayoritas Korban WNA, Polisi Tetap Buka Pelaporan untuk WNI
Respati menyebut, sejauh ini korban yang teridentifikasi sebagian besar berasal dari Vietnam, Filipina, dan Thailand. Meski begitu, ia menegaskan bukan berarti warga Indonesia kebal dari skema serupa. Bila ada WNI yang merasa menjadi korban, laporan tetap bisa disampaikan ke Polsek terdekat agar ditindaklanjuti.
Menurut polisi, para pelaku memanfaatkan aplikasi kencan untuk membangun pendekatan awal. Setelah korban dianggap percaya, mereka kemudian diarahkan ke tawaran investasi yang ternyata palsu. Sasaran utamanya disebut wanita dari kalangan berada, dengan pola komunikasi yang dibuat meyakinkan sebelum masuk ke tahap penipuan.
Terendus dari Tawaran Investasi di Aplikasi Kencan
Kasus ini terbongkar setelah polisi mencurigai adanya promosi investasi di dalam aplikasi tersebut. Dari sana, penyelidikan dikembangkan hingga mengarah pada sebuah apartemen di Jakarta Pusat yang diduga menjadi titik operasional jaringan penipuan.
Dalam penggerebekan di lokasi itu, polisi menangkap 20 orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Satu orang lainnya masih diburu dan masuk daftar pengejaran. Aparat juga masih menelusuri kemungkinan adanya korban lain, termasuk WNI, yang terdampak dengan pola penipuan serupa.
Penggerebekan Apartemen Jadi Titik Balik Kasus
Pengungkapan ini memperlihatkan bagaimana penipuan digital kini kian rapi dikemas, memanfaatkan aplikasi yang sehari-hari dipakai untuk berkenalan. Dari obrolan ringan, para pelaku diduga membangun kepercayaan sebelum mengarahkan korban pada skema investasi yang merugikan.
Polisi menegaskan penanganan kasus masih berlanjut, terutama untuk menelusuri peran masing-masing tersangka dan kemungkinan jaringan yang lebih luas. Bagi korban yang merasa pernah terhubung dengan pola penipuan serupa, laporan ke kepolisian menjadi langkah penting agar jejak kejahatan ini tidak berhenti pada penggerebekan semata.












