Berita  

Prabowo Program Makan Gratis: Pelajaran Berharga dari India

Program makan bergizi gratis kembali menjadi sorotan setelah pengalaman India menunjukkan bahwa kebijakan pangan untuk anak sekolah bisa memberi dampak yang jauh lebih luas dari sekadar mengisi perut. Bukan hanya soal bantuan makan siang, melainkan juga tentang menjaga kehadiran siswa di kelas, memperbaiki kesehatan anak, hingga mendorong perputaran ekonomi di tingkat bawah.

India Jadi Contoh Program yang Bertahan Lama

India sudah menjalankan program makan siang gratis sejak 1995 melalui Program Nasional Dukungan Gizi untuk Pendidikan Dasar. Skema yang dikenal sebagai Mid-Day Meal Scheme (MDMS) itu telah menjangkau lebih dari 125 juta anak berusia 6-14 tahun. Besarnya cakupan membuat program ini dipandang sebagai salah satu kebijakan sosial paling berpengaruh di negara tersebut.

Pemerintah India juga menunjukkan komitmen besar untuk mempertahankan program ini. Anggaran sebesar INR 11.600 crore dialokasikan untuk MDMS, menegaskan bahwa dukungan gizi bagi pelajar bukan kebijakan sementara, melainkan bagian dari strategi pendidikan dan perlindungan sosial jangka panjang.

Dampaknya Tak Hanya di Ruang Kelas

Manfaat program makan siang gratis di India kerap disebut memiliki efek berantai. Anak-anak lebih terdorong untuk hadir ke sekolah, kondisi kesehatan mereka terbantu, dan beban keluarga berkurang. Dalam skala yang lebih luas, program seperti ini juga ikut menggerakkan ekonomi lokal karena kebutuhan bahan pangan dan distribusi melibatkan banyak pihak di masyarakat.

Karena itu, program tersebut tidak hanya dilihat sebagai solusi domestik India, tetapi juga relevan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pangan, pendidikan, dan pengurangan kemiskinan saling terkait, dan MDMS menjadi contoh bagaimana satu kebijakan bisa menyentuh banyak tujuan pembangunan sekaligus.

Indonesia Mulai Melangkah dengan Makan Bergizi Gratis

Di Indonesia, kebijakan serupa mulai dijalankan lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Januari 2025. Presiden Prabowo Subianto menargetkan program ini dapat menjangkau seluruh anak Indonesia secara bertahap, dengan sasaran 15 juta anak pada September 2025.

Target itu menempatkan MBG sebagai salah satu agenda penting pemerintahan baru dalam menjawab persoalan gizi dan ketimpangan akses makanan di kalangan pelajar. Harapannya jelas: tidak ada lagi anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar, sementara pengalaman India menunjukkan bahwa program semacam ini bisa menjadi investasi sosial yang hasilnya terasa jauh melampaui meja makan.