Berita  

“Update Situasi Suriah: Keruntuhan Rezim Assad dan Nasib Iran”

Rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad telah berhasil digulingkan setelah berkuasa sejak tahun 2000, mengakhiri Perang Saudara yang berlangsung selama 13 tahun di negeri Syam. Pasukan pemberontak Suriah, yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), termasuk di antara pihak yang berperan dalam menjatuhkan rezim Assad.

Alasan di balik keruntuhan rezim Assad disebut-sebut terkait dengan perang antara kelompok Hizbullah dan Israel, yang dimulai setelah serangan Hamas ke Israel. Kelompok Hizbullah, yang didukung oleh Iran, terlibat dalam konflik tersebut dengan membuka front di wilayah garis biru yang memisahkan Lebanon dan Israel. Akibatnya, Israel berhasil menghancurkan struktur komando Hizbullah dan memaksa mereka untuk melakukan gencatan senjata yang menguntungkan Israel.

Di sisi lain, HTS Islamis dan milisi Turki melihat peluang setelah kelemahan tentara Damaskus yang korup dan terdemoralisasi. Mereka mulai menyerbu kota Aleppo, memanfaatkan ketidaksiapan tentara rezim untuk memberikan perlawanan yang signifikan.

Keruntuhan rezim Assad juga memberikan tekanan berat bagi Iran, yang merupakan pendukung utamanya. Ahli keamanan dari King’s College London mengatakan bahwa Iran harus fokus ke wilayah asalnya dan tidak terlibat dalam konflik di luar negaranya. Penerbangan khusus telah mengantarkan ribuan warga Iran pulang dari Suriah setelah penggulingan Assad.

PBB menekankan pentingnya akuntabilitas selama transisi politik di Suriah dan menuntut pertanggungjawaban bagi pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Qatar juga mengutuk pendudukan Israel di Suriah dan menyerukan kepatuhan terhadap hukum internasional.

Tindakan Israel juga mencuat setelah keruntuhan rezim Assad, dengan meluncurkan ratusan serangan udara di berbagai wilayah Suriah dan menargetkan instalasi militer serta gudang senjata. Ini mengakibatkan penghentian pertahanan udara Suriah dan kerugian signifikan bagi rezim setelah kepergian Assad.