Berita  

Perang Regional Terjadi di Gaza Akibat Peringatan Hizbullah

Peringatan terbaru dari Hizbullah kembali mengangkat kekhawatiran lama: perang di Gaza tidak lagi dipandang sebagai konflik yang terbatas di satu wilayah. Wakil pemimpin Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menilai pembunuhan warga sipil oleh Israel di Gaza berpotensi memicu ledakan yang lebih besar di Timur Tengah. Dalam wawancara dengan BBC International, ia menyebut situasi yang berkembang saat ini sangat serius dan berbahaya.

Hizbullah sebut eskalasi tak bisa dilepaskan dari tindakan Israel

“Bahayanya nyata,” ujar Qassem, dikutip Kamis (9/11/2023). Ia menegaskan bahwa serangan Israel terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, membuat situasi kian sulit dikendalikan. Menurutnya, jika kekerasan terus meningkat, dampaknya tidak akan berhenti di Gaza.

Qassem juga menekankan bahwa setiap eskalasi memiliki konsekuensi. Dalam pandangannya, respons akan selalu muncul jika serangan terus berlanjut. Hizbullah sendiri merupakan kekuatan politik dan militer terbesar di Lebanon, meski Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Liga Arab menggolongkannya sebagai organisasi teroris.

Konflik Gaza dan Lebanon selatan makin sensitif

Sejauh ini, Hizbullah merespons perang di Gaza dengan langkah-langkah yang disebut masih terukur. Kelompok itu dinilai berhati-hati dalam menentukan setiap tindakan agar konflik tidak langsung berubah menjadi perang besar. Namun, ketegangan sempat meningkat ketika serangan Israel menewaskan seorang perempuan dan tiga anak di Lebanon selatan pada Minggu lalu. Hizbullah kemudian untuk pertama kalinya menggunakan roket Grad dalam konflik tersebut, yang berujung pada tewasnya seorang warga sipil Israel.

Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, sebelumnya juga memperingatkan bahwa setiap kematian warga sipil di Lebanon akan dibalas dengan kematian di seberang perbatasan. Meski begitu, ia tidak sampai menyebut akan ada “perang habis-habisan” dengan Israel.

Qassem kaitkan konflik dengan sejarah panjang Palestina

Dalam wawancara itu, Qassem juga menolak anggapan bahwa konflik ini baru meledak sejak 7 Oktober. Ia menyebut serangan Hamas sebagai reaksi yang tak terelakkan atas pendudukan Israel terhadap tanah Palestina selama puluhan tahun. “Mengapa kita tidak melihat apa yang telah dilakukan Israel di Gaza,” katanya. “Mereka membunuh warga sipil dan menghancurkan rumah-rumah,” tambahnya.

Ia merujuk pada sejarah panjang upaya penyelesaian konflik, mulai dari resolusi PBB 181 pada 1948 yang membagi Palestina menjadi dua negara dan satu wilayah internasional, hingga Perjanjian Oslo pada 1993. Namun, menurutnya, janji-janji dari proses itu tidak pernah benar-benar terwujud, sementara konflik justru terus membesar dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, dampak perang juga sudah merembet ke dunia bisnis global. Direktur think tank kebijakan luar negeri Atlantic Council, Frederick Kempe, mengatakan dalam dialog bisnis CNBC Global Evolve pekan lalu bahwa para CEO kini jauh lebih sering memasukkan faktor geopolitik dalam pengambilan keputusan. Ia menyebut guncangan eksternal dalam empat tahun terakhir—mulai dari Covid-19, penarikan pasukan AS dari Afghanistan, invasi Rusia ke Ukraina, hingga perang Israel-Hamas—telah mengubah cara para pemimpin perusahaan membaca risiko.

Sementara itu, laporan lain menyebutkan bahwa perang yang melebar bisa mengganggu Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kekhawatiran terbesar tertuju pada kemungkinan pembalasan Israel terhadap Iran, yang selama ini menjadi sumber dana dan senjata bagi jaringan proksi. Bank of America bahkan memperkirakan Iran bisa saja menutup selat tersebut, yang berpotensi mendorong harga minyak melampaui U$250 per barel.