Berita  

Tim Anies-Imin Ungkap Rencana Tanpa Target Ekonomi yang Menjanjikan

Tim Anies-Imin Pilih Tak Pasang Target Ekonomi 7%, Ini Alasannya

Tim ahli ekonomi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar memilih mengambil jalur yang berbeda dalam kontestasi Pilpres 2024. Alih-alih menjanjikan pertumbuhan ekonomi hingga 7% seperti yang disuarakan pasangan lain, mereka justru menegaskan pentingnya target yang lebih realistis, terukur, dan tidak mengorbankan pemerataan.

Juru Bicara sekaligus Tim Ahli Ekonomi Anies Baswedan, Thomas Lembong, menjelaskan bahwa keputusan itu lahir dari pertimbangan kualitas pertumbuhan, bukan sekadar angka yang terdengar besar di atas kertas. Menurut dia, pertumbuhan yang terlalu agresif berisiko memunculkan ketimpangan dan tidak selalu menghadirkan manfaat yang merata bagi masyarakat.

Fokus pada pertumbuhan yang bisa dirasakan

Lembong mengatakan, Anies-Muhaimin menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,5% hingga 6,5%. Angka ini dinilai lebih masuk akal untuk dicapai sekaligus memberi ruang bagi kebijakan yang menjaga pemerataan. Ia menilai, mengejar pertumbuhan tinggi tanpa memperhatikan distribusi manfaat justru bisa menciptakan jurang sosial yang lebar.

Dalam pandangannya, pertumbuhan yang terlalu dipaksakan kerap berujung pada ketimpangan, seperti yang menurutnya terjadi di sejumlah negara. Karena itu, tim Anies-Muhaimin memilih menekankan penguatan kelas menengah tanpa harus mengorbankan kesetaraan.

Janji realistis dinilai lebih penting

Lembong juga menegaskan bahwa janji ekonomi yang realistis merupakan bagian dari komitmen politik Anies-Muhaimin agar Pilpres 2024 tidak dipenuhi slogan yang terlalu muluk. Ia menyebut pemilih Indonesia kini semakin cerdas dalam menilai janji kampanye, sehingga yang dibutuhkan bukan sekadar target besar, melainkan rencana yang benar-benar bisa dijalankan.

Menurut dia, visi dan misi pasangan ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang ada. Ia bahkan menyebut banyak ekonom dunia memperkirakan potensi resesi tahun depan, dipicu oleh suku bunga acuan yang tinggi, dolar AS yang kuat, dan harga komoditas yang mahal.

Target 7% dinilai menuntut lompatan besar

Lembong menyoroti bahwa jika sebuah pemerintahan memulai dari pertumbuhan sekitar 5%, lalu ingin menutup periode dengan rata-rata 7%, maka laju ekonomi di tengah jalan harus melonjak jauh lebih tinggi. Dalam skenario itu, pertumbuhan bahkan harus mencapai sekitar 9% agar angka rata-rata tetap berada di 7% pada akhir periode.

Karena itu, tim Anies-Muhaimin menilai target yang mereka pasang lebih sejalan dengan kemampuan ekonomi nasional dalam lima tahun ke depan. Mereka meyakini, janji dalam visi-misi bukan untuk terdengar spektakuler, melainkan untuk bisa dieksekusi dan benar-benar diwujudkan.

Gambas:Video CNBC

Artikel Selanjutnya
RI Lewat, Ekonomi Jepang Meroket 6% pada Kuartal II-2023

(mij/mij)