Berita  

Pembangunan Pipa Dimulai untuk Mengatasi Kebanjiran Gas di Indonesia

Pemerintah mulai mengubah cara pandang terhadap gas bumi: bukan lagi sekadar soal cadangan yang besar, tetapi bagaimana infrastruktur bisa mengejar produksi agar energi itu benar-benar terpakai di dalam negeri. Di tengah melimpahnya sumber gas, Dewan Energi Nasional (DEN) menilai pembangunan jaringan pipa menjadi kunci agar pasokan tidak berhenti di lokasi temuan, melainkan mengalir ke wilayah yang membutuhkan.

Pipa Cisem Jadi Fokus Utama

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Djoko Siswanto, mengatakan salah satu proyek yang kini mendapat perhatian besar adalah pipa transmisi gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem). Menurut dia, proyek tersebut semula tidak dibiayai APBN, tetapi kemudian masuk pendanaan negara dengan nilai Rp3 triliun untuk pembangunan selama tiga tahun.

Djoko menyampaikan hal itu dalam acara Road to CNBC Indonesia Awards 2023: Best Energy Companies. Ia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur gas sangat penting agar pemanfaatan gas bumi di Indonesia tidak terhambat oleh persoalan distribusi.

Jaringan Gas Ditargetkan Saling Terkoneksi

Selain Cisem, pemerintah juga mendorong pembangunan pipa transmisi gas bumi Dumai-Sei Mangkei yang masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Bagi DEN, kehadiran jaringan yang saling tersambung akan menentukan apakah gas bumi bisa dimanfaatkan secara maksimal atau justru tetap terjebak sebagai potensi yang belum tersalurkan.

Djoko menyebut, jika seluruh infrastruktur transmisi telah terhubung, Indonesia bisa mengarahkan gas bumi untuk kebutuhan domestik sesuai Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional Nomor 79 Tahun 2014. Ia bahkan menyebut pada 2036 Indonesia tidak lagi mengekspor gas bumi, melainkan mengutamakannya untuk konsumsi dalam negeri setelah infrastruktur lengkap tersedia.

Pasokan Ada, Tantangannya Ada di Infrastruktur

Dari sisi hulu, Sekretaris SKK Migas Shinta Damayanti sebelumnya menegaskan bahwa gas bumi merupakan komoditas strategis dalam masa transisi energi. Indonesia memiliki sejumlah cadangan gas yang dinilai menjanjikan, mulai dari proyek Tangguh Train III, Blok Masela, Indonesia Deepwater Development (IDD), hingga temuan terbaru di Blok Andaman II.

Namun, Shinta menekankan bahwa cadangan besar tidak otomatis menjawab kebutuhan industri. Tanpa infrastruktur yang memadai, gas sulit mengalir ke sektor yang membutuhkan. Karena itu, ia berharap proyek Cisem dan Dumai-Sei Mangkei bisa segera rampung agar kelebihan pasokan di Jawa Timur dapat membantu menutup kekurangan di Jawa Barat dan Sumatera.

“Saat ini proyek Cisem menjadi solusi bagi Jawa dan Sumatera, sementara kita masih memiliki 68 cekungan yang belum dieksplorasi terutama di wilayah timur. Oleh karena itu, tantangannya adalah mencari cara untuk menghubungkan eksplorasi gas bumi tersebut dengan pemanfaatannya,” ujar Shinta.