Berita  

Iran: Perang Gaza Mengalami Perluasan, Proksi Tidak Akan Berdiam Diri

Iran kembali mengirim sinyal keras ke Israel di tengah memanasnya perang Israel-Hamas. Dari Doha, ibu kota Qatar, diplomat senior Iran Hossein Amir-Abdollahian menegaskan bahwa konflik di Gaza berisiko meluas jika gencatan senjata tak segera tercapai. Ia juga menyebut kelompok-kelompok proksi tidak akan tinggal diam melihat perang terus berkobar, sebuah peringatan yang menambah tegang situasi kawasan.

Peringatan Iran di Tengah Eskalasi Serangan

Pernyataan Amir-Abdollahian muncul setelah kelompok pemberontak Huthi mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak di Israel selatan. Di saat yang hampir bersamaan, militer Israel mengatakan berhasil mencegat rudal yang ditembakkan ke wilayah Israel dari Laut Merah. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bahwa perang di Gaza sudah menjalar ke titik-titik lain di kawasan, meski belum ada tanda mereda.

Iran juga menekankan bahwa dampak yang lebih luas bisa terjadi apabila upaya penghentian tembak-menembak kembali gagal. Pesan itu disampaikan dalam konteks meningkatnya tekanan internasional agar konflik tidak semakin meluas.

Qatar Dorong Gencatan Senjata

Qatar, yang bersama Iran dikenal sebagai pendukung Palestina, ikut menyoroti pentingnya mempercepat upaya gencatan senjata di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Seruan itu muncul ketika situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk akibat pengeboman yang tidak kunjung berhenti.

Israel sendiri menolak seruan internasional untuk memberikan “jeda kemanusiaan” bagi warga Gaza yang sangat membutuhkan bantuan darurat. Penolakan ini membuat akses bantuan kian sulit, sementara jumlah korban terus bertambah dari hari ke hari.

Korban Sipil Terus Bertambah di Gaza

Dalam perkembangan terbaru, lebih dari 50 warga Palestina dilaporkan tewas dan 150 lainnya luka-luka akibat serangan. Hamas menyebut total korban di kamp pengungsi Jabalia mencapai 400 orang tewas dan terluka. Hingga saat ini, lebih dari 8.000 warga sipil dilaporkan tewas di Gaza, termasuk lebih dari 2.000 anak-anak. Di pihak Israel, pemerintah mencatat 1.400 warga sipil tewas.