Berita  

Hasil Survei Menunjukkan Slamet Somosentono-Alfi Rustam Unggul dalam Pilkada Banyuasin 2024

Survei LKPI: Slamet Somosentono-Alfi Rustam Lebih Dulu Melaju di Peta Pilkada Banyuasin 2024

Persaingan Pilkada Banyuasin 2024 mulai membaca arah yang cukup jelas. Dari hasil riset opini publik yang dilakukan Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI), pasangan Slamet Somosentono-Alfi Rustam tampil lebih menonjol dibanding duet Askolani-Netta Indian. Temuan ini bukan hanya soal angka keterpilihan, tetapi juga soal bagaimana publik menilai sosok calon di tengah sorotan isu personal yang ikut membentuk persepsi pemilih.

Slamet-Alfi unggul dalam simulasi pilihan langsung

Dalam simulasi pertanyaan tertutup, responden diminta memilih antara dua pasangan bupati dan wakil bupati: Askolani-Netta Indian atau Slamet Somosentono-Alfi Rustam. Hasilnya, pasangan Slamet Somosentono-Alfi Rustam meraih dukungan 57,2 persen. Sementara itu, Askolani-Netta Indian berada di angka 33,1 persen, dan 9,7 persen responden belum menentukan pilihan.

Direktur Eksekutif LKPI Togu Lubis menyampaikan hasil itu dalam keterangannya pada Rabu (7/8/2024). Menurut dia, temuan survei menunjukkan peta kompetisi yang belum sepenuhnya ditentukan oleh popularitas semata. Ada faktor penerimaan publik yang justru lebih menentukan arah dukungan.

Popular dikenal belum tentu disukai

LKPI juga menguji tingkat popularitas dan akseptabilitas masing-masing calon. Dari sisi pengenalan nama, Askolani masih lebih tinggi dibanding Slamet Somosentono. Popularitas Askolani tercatat 88,2 persen, sedangkan Slamet Somosentono berada di angka 78,8 persen.

Namun, angka pengenalan itu tidak otomatis berubah menjadi kesukaan publik. Dalam aspek akseptabilitas, Slamet Somosentono justru jauh lebih kuat. Tingkat kesukaannya mencapai 89,8 persen, sementara Askolani hanya 42,2 persen. Togu menyebut inilah yang membuat elektabilitas keduanya bergerak ke arah berbeda.

Head to head tetap menguntungkan Slamet-Alfi

Ketika LKPI menguji simulasi head to head antara pasangan Askolani-Netta Indian dan Slamet Somosentono-Alfi Rustam, pasangan Slamet-Alfi kembali unggul. Mereka memperoleh 47,9 persen, sedangkan Askolani-Netta mengantongi 42,7 persen. Sisanya, 9,4 persen belum menyatakan pilihan.

Dalam pertanyaan terbuka, selisihnya juga masih berpihak pada Slamet. Askolani dipilih 38,4 persen responden, sedangkan Slamet Somosentono mendapatkan 47,6 persen. Sebanyak 14 persen lainnya belum menentukan pilihan.

Isu rumah tangga Askolani ikut membentuk persepsi publik

Togu menilai tingginya popularitas Askolani justru dipengaruhi oleh pemberitaan soal persoalan rumah tangganya yang ramai dibicarakan masyarakat. Berdasarkan survei, 94,7 persen responden mengetahui adanya persoalan itu karena kasus tersebut dilaporkan ke Polda Sumatera Selatan.

Publik mengetahui Askolani diduga menikah lagi tanpa izin dan dilaporkan oleh seorang perempuan asal Jakarta. Askolani juga disebut mengajukan gugatan cerai terhadap istrinya, dr. Sri Fitriani. Dalam pembacaan LKPI, kondisi ini membuat nama Askolani memang terkenal, tetapi tidak selalu dalam citra yang menguntungkan.

“Popularitas Askolani masuk kategori terkenal tapi tidak disukai,” kata Togu. Ia menyebut reputasi tersebut berkaitan dengan persepsi negatif yang terbentuk dari kasus pribadi dan pemberitaan yang mengikutinya. Sebaliknya, Slamet Somosentono dinilai memiliki popularitas sosiometrik, yakni dikenal karena karakter yang disukai publik, empati, dan kebiasaan membantu masyarakat.

Survei dilakukan pada 1.000 responden

LKPI menyebut survei ini melibatkan 1.000 responden yang dipilih melalui metode multistage random sampling. Margin of error survei tercatat 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Responden merupakan warga Banyuasin berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah.

Pengumpulan data dilakukan lewat wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Untuk menjaga kualitas data, supervisor melakukan kendali secara acak terhadap 20 persen total sampel.

Dari sisi kesadaran politik, 75,7 persen responden menyatakan mengetahui adanya Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Banyuasin 2024. Sementara itu, 24,3 persen mengaku belum mengetahui. Adapun 81,5 persen responden mengatakan akan ikut memberikan suara, 10,6 persen menyebut tidak akan memilih, dan 7,9 persen masih ragu.

Pengamat Komunikasi Politik sekaligus Pemerhati KDRT dari Rutgers The State University of New Jersey, Rinjani Dwi Sudjono, ikut menanggapi hasil survei tersebut. Ia menilai dugaan kasus yang menyeret Askolani berpotensi menjadi beban berat dalam kontestasi.

Dwi juga menyinggung laporan dari Nova Yunita, perempuan asal Jakarta yang mengaku sebagai istri sah Askolani, serta dugaan penelantaran anak yang disebut lahir dari pernikahan mereka yang tercatat di KUA Kertapati Palembang dengan akta nikah nomor 736/22/XII/2014. Menurutnya, jejak digital dan berbagai tudingan yang mengiringi nama Askolani akan terus memengaruhi cara publik memandang kandidat tersebut.