Berita  

Menteri Suharso Mengatakan Perang Hamas vs Israel Mengguncang Dunia dari Segi Ekonomi

Menteri Suharso: Perang Hamas-Israel Ikut Guncang Ekonomi Dunia, Rupiah Tertekan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memberi tekanan ke pasar keuangan global. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, menilai perang antara Hamas dan Israel telah mengguncang perekonomian dunia dan ikut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat. Di saat yang sama, rupiah justru berada di bawah tekanan karena ketidakpastian global makin tinggi.

Dolar Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Suharso menyebut, dampak perang tersebut tidak berdiri sendiri. Menurutnya, situasi makin rumit karena masih ada perseteruan antara Amerika Serikat dan China yang menambah ketidakpastian ekonomi internasional. Kombinasi dua faktor itu membuat dolar AS semakin dominan, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung melemah.

Ia juga menyoroti bahwa harga dolar AS tetap naik meski The Fed tidak menaikkan suku bunga. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar global sedang bergerak sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan arah ekonomi dunia.

Rupiah Sempat Menyentuh Rp16.000

Pada 19 Oktober 2023, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp15.852 per dolar AS atau mendekati level Rp16.000. Pada hari itu, rupiah melemah 0,78 persen. Pelemahan ini memperlihatkan betapa cepatnya gejolak eksternal mempengaruhi mata uang domestik, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari luar negeri.

Untuk merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin. Dengan keputusan itu, suku bunga BI pada Oktober 2023 berada di level 6 persen.

BI Fokus Jaga Stabilitas dan Inflasi

Langkah BI dimaksudkan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global. Selain itu, kenaikan suku bunga juga diarahkan untuk mengendalikan inflasi, terutama yang dipicu oleh kenaikan harga bahan impor. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan tersebut ditempuh agar inflasi tetap terjaga dalam target 3,0±1 persen pada 2023.

Di pasar energi, perang Hamas dan Israel juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada awal perdagangan Asia, 9 Oktober 2023, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 4 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat menguat 4,23 dolar AS atau 5,11 persen.

Sumber: Istimewa