Lepas dari hiruk-pikuk nama besar di tubuh TNI, ada pelajaran kepemimpinan yang justru lahir dari hal-hal kecil: dapur, kamar mandi, hingga disiplin prajurit di barak. Dalam catatan ini, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto mengurai kesan mendalamnya terhadap sejumlah senior yang membentuk cara pandangnya sebagai perwira. Dari Himawan Soetanto, Sarwo Edhie Wibowo, hingga Abdul Haris Nasution, yang menonjol bukan hanya pangkat dan jabatan, melainkan gaya memimpin yang hidup di lapangan.
Himawan Soetanto dan Pelajaran dari Detail Kecil
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Himawan Soetanto meninggalkan kesan kuat karena kedekatannya dengan anak buah. Bagi Prabowo, pelajaran paling penting dari Himawan adalah bahwa komandan tak boleh berjarak dengan pasukannya. Seorang pemimpin, menurut cara pandang itu, harus hadir sejak pagi hingga malam, memeriksa kondisi prajurit sampai ke urusan yang paling remeh sekalipun.
Prabowo mengingat bagaimana Himawan menekankan pentingnya melihat langsung dapur, kamar mandi, hingga kualitas perlengkapan prajurit. Dari kebiasaan itulah ia belajar menaruh perhatian pada detail. Ia bahkan pernah menemukan celana dalam prajurit yang berubah warna menjadi cokelat, serta praktik penyimpangan di dapur satuan, termasuk pembagian satu kilogram daging untuk 16 orang. Di lingkungan TNI, praktik itu dikenal sebagai “daging cukur”, istilah untuk daging yang dipotong setipis pisau cukur.
Komandan Harus Tahu Lapangan
Prabowo pertama kali mengenal Himawan ketika masuk AKABRI pada 1970. Saat itu, Himawan menjabat Wadan AKABRI dan bertanggung jawab atas pendidikan serta pelatihan. Ia digambarkan sangat terpelajar, fasih berbahasa Inggris dan Belanda, serta sedikit Jepang. Himawan juga dikenal gemar membaca buku sejarah, termasuk karya B. H. Liddell Hart dan Sun Tzu. Dalam pandangan Prabowo, kebiasaan membaca itu menunjukkan bahwa pemimpin militer yang kuat bukan hanya yang keras di medan tugas, tetapi juga yang terus belajar.
Kesan lain yang melekat adalah penampilan Himawan yang rapi, wajah yang selalu tersenyum, dan sikap tenang namun percaya diri. Ia disebut memiliki pengalaman tempur panjang, sehingga memahami ritme kehidupan prajurit di lapangan. Prabowo membandingkannya dengan sebagian pemimpin yang terlalu terpaku pada aturan formal atau yang dalam istilah TNI disebut mementingkan PUD. Bagi Himawan, aturan tetap penting, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi satuan dan kebutuhan nyata di lapangan.
Sarwo Edhie: Karisma, Disiplin, dan Patriotisme
Nama lain yang sangat membekas adalah Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo. Sosok ini dikenang sebagai pemimpin yang karismatik, rapi, dan selalu tampak meyakinkan. Ia dikenal memimpin dari depan, termasuk ketika masih memegang Komando Pasukan Khusus yang kala itu bernama RPKAD. Bagi para taruna muda, termasuk Prabowo, Sarwo Edhie bukan sekadar senior, melainkan figur teladan yang menyatukan keberanian, disiplin, dan semangat juang.
Saat menjadi mentor di AKABRI, Sarwo Edhie kerap berbagi pengalaman tempur dan menanamkan semangat pantang menyerah. Nilai patriotisme, cinta tanah air, dan kebanggaan pada warisan bangsa terus ia ulang dalam berbagai kesempatan. Buku Hidupku untuk Tanah Air dan Bangsa menjadi salah satu jejak pemikirannya yang sejalan dengan karakter keras namun nasionalis yang ia wariskan kepada para taruna.
Jejak Setelah Pensiun
Sesudah pensiun, Sarwo Edhie sempat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dan kemudian menjabat Ketua BP7. Prabowo juga mengenangnya sebagai prajurit yang jujur dan tidak meninggalkan kekayaan besar saat wafat. Dalam kehidupan pribadinya, Sarwo Edhie menikahkan ketiga putrinya dengan lulusan AKMIL: Hadi Utomo, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Erwin Sudjono. Prabowo menyebut mengenal baik ketiganya.
Nasution, Guru dari Generasi ’45
Di bagian lain, Prabowo menyebut Pengganj…


