Berita  

Menyusuri Keindahan Museum Air Subak yang Memukau Delegasi World Water Forum ke-10

Tabanan, CNBC Indonesia – Di balik gaung World Water Forum ke-10, Indonesia tak hanya tampil sebagai tuan rumah yang sukses mengumpulkan 60 ribu peserta, tetapi juga memperkenalkan ruang baru yang langsung mencuri perhatian delegasi: Museum Air Subak di Kabupaten Tabanan. Kehadiran museum ini menjadi penanda bahwa urusan air tidak lagi sekadar soal infrastruktur, melainkan juga soal sejarah, budaya, dan cara hidup masyarakat.

Museum Baru yang Mengangkat Air sebagai Pusat Cerita

Museum Air Tabanan dibangun untuk mendukung penyelenggaraan World Water Forum ke-10 yang telah berlangsung sebelumnya. Konsep, desain, dan pelaksanaannya berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR). Pembangunannya dimulai sejak 2023 di atas lahan seluas enam hektar milik Pemerintah Provinsi Bali, tepatnya di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri.

Di lokasi ini, air diposisikan sebagai narasi utama. Bukan hanya sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai penghubung antara pengalaman negara lain dan tradisi pengelolaan air di Indonesia. Tak heran jika museum ini kemudian masuk dalam agenda kunjungan delegasi World Water Forum ke-10.

Dari China, Korea, hingga Jejak Panjang Air di Indonesia

Ruang pamer museum dibuka dengan paviliun China yang menampilkan pengelolaan air berkelanjutan dari masa ke masa, mulai dari bendungan, irigasi, hingga pemanfaatan ilmu pengetahuan. Setelah itu, pengunjung diarahkan ke kisah pembangunan DAS Brantas hasil kerja sama Indonesia dan Jepang pada 1960, yang memperlihatkan bahwa pengelolaan air juga bertumpu pada kolaborasi lintas negara.

Di bagian lain, museum menampilkan upaya menjaga dan memulihkan kawasan pesisir, termasuk pengurangan erosi di daerah pinggir pantai seperti Bali. Lalu ada paviliun Korea Selatan yang menyoroti asosiasi perbaikan air sejak era Joseon, dengan penekanan pada kesinambungan pengelolaan air dari masa ke masa.

Masuk ke bagian Indonesia, alurnya bergeser ke sejarah yang jauh lebih panjang. Museum ini mengisahkan pengelolaan sumber daya air sejak zaman prasejarah, ketika masyarakat pertanian sudah mengenal sistem irigasi. Sistem itu kemudian menjadi penopang pertanian Nusantara selama ribuan tahun, melewati era kerajaan, kolonial Hindia Belanda, kemerdekaan, hingga masa sekarang.

Subak Bali Jadi Puncak Narasi Museum

Bagian yang paling menonjol tentu paviliun subak. Sistem irigasi warisan budaya UNESCO ini telah digunakan sejak abad ke-9 dan pertama kali tercatat dalam prasasti Trunyan. Subak bukan hanya soal pembagian air sawah, tetapi juga menyangkut organisasi petani, pengaturan tata tanam, perlindungan petani, hingga pemeliharaan saluran air.

Museum ini juga mengulas sebaran sistem irigasi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Di Sumatera, luas wilayah irigasi disebut mencapai 473.481 km atau 34% dari total wilayahnya. Sementara itu, paviliun Jawa memuat informasi tentang lumbung, bendungan, dan kearifan lokal di sejumlah provinsi, sedangkan Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Papua menampilkan kekhasan budaya serta sistem pertanian masing-masing.

Bangunan museum terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama mengangkat tema air secara global, lantai kedua membahas air di Indonesia, dan lantai ketiga difokuskan pada subak. Dengan konsep sad kerthi, terutama jana kerthi, serta the ways of water, museum ini dirancang untuk menghadirkan kedamaian secara material dan spiritual sekaligus memperlihatkan bahwa air adalah pengetahuan yang hidup dalam kebudayaan.

Kunjungan delegasi ke Museum Air Subak menjadi bagian dari rangkaian penutupan World Water Forum ke-10 yang berlangsung kemarin. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di halaman resmi World Water Forum.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya
RI Alami 1.000 Bencana Banjir Setiap Tahun, Pemerintah Lakukan Ini

(dpu/dpu)