Jauh sebelum nama Prabowo Subianto identik dengan panggung politik nasional, hidupnya sudah ditempa oleh perpindahan, keterbatasan, dan keputusan besar yang dibentuk oleh situasi keluarga. Sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, ia harus menjalani masa kecil di luar Indonesia. Kondisi itu bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan dampak langsung dari aktivisme politik ayahnya. Di tengah situasi tersebut, rasa cinta pada Indonesia justru makin kuat, ditanamkan oleh orang tua dan kakeknya hingga menjadi bagian penting dalam pilihan hidupnya kelak.
Hidup di Antara Jakarta, Swiss, dan London
Ketika berada di Jakarta, Prabowo tumbuh dalam ritme hidup yang terbagi antara rumah ayahnya di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, dan rumah kakeknya di Jalan Matraman. Lingkungan keluarga besar itu membentuk ruang tumbuh yang dekat dengan sejarah politik dan kebangsaan. Rumah kakeknya, R.M. Margono Djojohadikusumo, bahkan berdiri bersebelahan dengan rumah K.H. Hasyim Asyari, kakek dari Presiden Indonesia keempat, Gus Dur.
Selain Jakarta, Prabowo juga sempat tinggal di Swiss. Perpindahan ini tidak lepas dari ketegangan politik antara Prof. Sumitro dan Presiden Sukarno terkait Partai Komunis Indonesia (PKI). Prof. Sumitro tidak dapat menerima keterlibatan PKI dalam pemerintahan Sukarno, dan akibatnya rumah keluarganya di luar negeri turut menjadi perhatian layanan intelijen.
Pilihan Pendidikan yang Menentukan Arah Hidup
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke American School di London. Di sana, Prabowo bukan hanya dikenal sebagai siswa yang menonjol, tetapi juga aktif memimpin berbagai kegiatan. Ia pernah menjadi kapten tim sepak bola, tim debat, dan tim catur, sekaligus menjabat sebagai ketua redaksi majalah sekolah. Dalam periode itu, ia juga tercatat sebagai satu-satunya siswa Indonesia di sekolah tersebut.
Prestasi akademik yang tinggi sempat membuka jalan baginya untuk melanjutkan studi ke universitas top di Amerika Serikat. Namun, Prabowo memilih jalur berbeda. Dengan dorongan nilai-nilai yang diwariskan keluarga, ia justru memutuskan masuk Akademi Militer Nasional. Keputusan itu menjadi penanda awal arah hidupnya, dari pelajar berprestasi di luar negeri menjadi sosok yang memilih pengabdian lewat jalur militer dan, pada akhirnya, politik.


